rss search

Surat Untuk Kakakku MAHASISWA Di MAKASSAR Yang Suka TAWURAN

line Surat Untuk Kakakku MAHASISWA Di MAKASSAR Yang Suka TAWURAN

Kakakku mahasiswa di Makassar
Kami tidak risih, tidak malu, bahkan bersyukur karena tidak mengerti apa itu tawuran,
apa itu perkelahian,bagaimana melempar kaca,
bagaimana membakar gedung dan sebagainya
Karena kalau kami tahu dan melakukannya juga maka kami tidak akan makan hari ini
Kami terlalu sibuk dari subuh hingga malam untuk menjual Koran, menjual minuman,
mencuci motor, mengumpulkan ikan, menjual buku-buku agama,
menjadi pak ogah mengatur jalan, memulung,
bahkan terpaksa mengemis dari rumah ke rumah dan dari warkop ke warkop
demi mendapat seribu duaribu rupiah
agar ibu kami bisa masak hari ini.

(2)
Kakakku mahasiswa di Makassar
Beratus-ratus bahkan beribu-ribu kali kami melihat ibu kami menangis di tengah malam
karena melihat anaknya tidak bisa bersekolah. Tidak pernah menjadi murid,
tidak bisa menjadi siswa, tidak pernah menjadi pelajar,
apalagi menyandang status mahasiswa.

Sama dengan dengan Ibu-ibu kalian wahai kakakku mahasiswa di Makassar
Tapi tangisannya tangisan berbeda.
Mereka menangis karena bersyukur bisa memberikan pendidikan yang tinggi
bagi anak-anaknya
Mereka menangis karena ada anaknya sudah menjadi mahasiswa.
Bahkan mereka siap menangis darah untuk melakukan apa saja
demi mewujudkan cita-cita anaknya.

(3)
Tapi….kakakku mahasiswa di Makassar
Untuk membayar semua air mata yang keluar dari ibu kami
Kami tidak perlu melalui pendidikan yang tinggi.
Kami tidak perlu diprosess melalui orientasi
Kami tidak harus dididik melalui pesantren kilat dan sebagainya.
Kami terus bekerja dengan ikhlas, kami tidak merusak,
kami tidak merugikan orang lain
Satu tekad kami. Kami tidak akan membuat malu ibu kami.
Karena itulah rasa syukur kami kepada tuhan
yang telah memberikan kami ibu seperti ibu kami.

Kakakku mahasiswa di Makassar…..
Masih tidak beryukurkah kalian terhadap nasib baik yang kalian miliki?
Masih tidak beryukurkah kalian yang beruntung mendapat pendidikan tinggi?
Atau memang kalian tidak tahu apa yang namanya bersyukur?

(4)
Kakakku mahasiswa di Makassar….
Tidakkah kalian sadari jika seandainya tidak ada kaca yang pecah.
Tidak ada gedung yang terbakar
Tidak ada pintu yang rusak
Lalu biaya tersebut dialihkan ke kami
Maka akan berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun
kami tidak akan lagi dipusingi dengan mencari seribu duaribu rupiah.
Waktu kami akan kami gunakan untuk belajar dan terus belajar
agar kami semakin mengerti apa yang namanya bersyukur,
Mengerti makna menjadi manusia yang sesungguhnya.

(5)
Kakakku mahasiswa di Makassar…..
Haruskah kami bersama ibu-ibu kami
menumpahkan seluruh air mata di kampus kalian
atau di tempat-tempat yang kalian hancurkan
agar kalian berhenti merusak?

Kalau memang itu bisa membuat kalian berhenti
maka akan kami lakukan.
Tapi sesungguhnya wahai kakakku mahasiswa di Makassar.
Sedari dulu hingga kini
gubuk- gubuk kami telah penuh dengan air mata
tatkala melihat kalian ikut larut ke dalam golongan orang-orang yang merusak .

Makassar, 23 September 2010
Adik-adik pemulung yang penuh syukur


Leave a Reply