Tafsir Surat Al Fatihah
A’uudzubillaahi minash-shaithaanir-rajiim
BismillaahirrahmaanirrahiimAlhamdulillah mungkin beberapa hari ini bisa saya mengatakan kalau iman saya sedikit meningkat, Amin. Saya mencari beberapa kajian-kajian yang benar-benar dari ulama dan cendikiawan Islam diInternet, rupanya saya dipertemukan dengan jodoh kajian dasar di QS. Al Fatihah yang ternyata dibawakan oleh ayahanda Muhammadiyah, M. Muhtar Arifin Sholeh (Ketua Majlis Tabligh dan Pendidikan PCIM UK). Subhanallah dalam pemikiran sempit ini, saya selalu melihat bahwa Muhammadiyah ini hanya berputar hanya diruang lingkup dakwah di bangsa kita ini. Setelah melihat ini saya terpikirkan juga pada sebuah Film “Sang Pencerah” dimana Pendiri Muhammadiyah itu melewati sebuah zaman yang benar-benar kolot. Namun karena kecintaannya pada agama dan pendalamannya terhadap agama Allah ini “Dinul Islam” sehingga perjuangan pada zaman itu telah terlihat hasilnya sampai sekarang.
Nah, silahkanlah membaca Kajian Tafsir Surah Al Fatihah ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua, khususnya para kaum Muda Muslim.
Nuun Walqolami Wamayasturruun.
PENGANTAR
Warga Muhammadiyah di UK khususnya dan ummat Islam umumnya, yang saya hormati…… Segala puji bagi Allah yang telah menyediakan segala kebutuhan hidup kita manusia. Semoga kita senantiasa dirahmati dan diridhoi oleh Allah, aamiin. Majlis Tabligh dan Pendidikan PCIM UK, Insya Allah, mulai Pebruari 2009 ini akan memulai beberapa kajian yang disajikan di Milis MS_UK (Muhammadiyah Society in United Kingdom). Salah satu kajian tersebut adalah Kajian al-Quran dan al-Hadits, yang akan disajikan setiap Senin. Kajian ini membuka dialog (pertanyaan dan komentar), jawaban pertanyaan atau tanggapan tidak harus dari pengasuh tetapi dapat juga dari jama’ah milis. Kajian ini boleh juga di-forward ke mana saja, asalkan berniat karena Allah untuk tujuan mencari ridho Allah. Selamat menikmati ! Silahkan buka lampiran !Sukran katsiiran ! Jazaakumullaahu khairan katsiiran !
M. Muhtar Arifin Sholeh (Ketua Majlis Tabligh dan Pendidikan PCIM UK)
AL-FATIKHAH (KE-1)
Ketika kita memulai membaca al-Quran, Allah swt memerintah agar kita membaca
ta’awudz (a’uudzubillaahi minash-shaithaanir-rajiim – aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk). Allah berfirman, yang artinya :
Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk (QS an-Nahl 16:98)
Tiga ayat pertama surat
al-Fatikhah adalah, yang artinya:
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pengasih lagi Maha Penyayang (QS al-Fatikhah 1:1-3)
Ayat
basmalah sering dibaca ketika memulai suatu perbuatan yang baik. Artinya, ketika melakukan perbuatan apa saja (yang baik) harus berniat karena Allah (atas nama Allah) dan bertujuan mencari ridha allah. Ayat hamdalah sering dibaca ketika mengakhiri suatu perbuatan yang baik. Artinya, kita dapat melakukan perbuatan itu karena kasih sayang Allah dan segala pujian itu milik Allah karena hanya Allah Tuhan yang mengatur, menumbuhkan, dan mendidik alam semesta (Rabbul’aalamiin). Jika ada orang lain memuji kita, maka kita ucapkan al-hamdulillaah, kita kembalikan pujian kepada Allah semata.
Dalam surat
al-Fatikhah dua sifat Allah disebut sebanyak dua kali, yaitu ar-Rahmaan ar-Rahiim (Maha Pengasih Maha Penyayang), sifat yang paling sering disebut oleh orang mu’min. Setiap muslim/mu’min membaca dua sifat itu minimal sebanyak (2x17rekaat)=34 kali, setiap hari khususnya dalam shalat. Allah juga bersifat al-Waduud (Maha Mencintai).
Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang berarti Allah mengasihi semua mahluk-Nya, tetapi Dia hanya menyayangi orang-orang yang taat kepada-Nya. Air, api, udara, tumbuhan, hewan, dan sebagainya adalah bukti Maha Pengasih Allah terhadap manusia. Pahala dan surga yang dijanjikan adalah bukti Maha Penyayang Allah terhadap muslim/mu’min. Kesempatan mengantuk dan tidur adalah bukti kasih sayang Allah terhadap manusia
Allah adalah pemilik dan sumber rasa kasih sayang dan cinta. Manusia hanya sekedar dititipi atau dipinjami rasa cinta atau kasih sayang. Manusia sewaktu lahir sebagai bayi belum ada cinta dan sewaktu dia kelak mati sudah tidak ada cinta lagi. Ke mana cinta ? Cinta diambil oleh Sang Pemilik yaitu Allah. Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya adalah segala-galanya, cinta yang paling tinggi dan paling besar. Apapun yang kita cintai harus dalam rangka cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)” (QS. Ali Imran 3:14)
Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal) (QS al-Baqarah 2:165)
“Katakanlah, ‘Jika Bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri, kerugiannya, dan rumah-rumah tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya’. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik” (QS. at-Taubah 9:24).
Dalam satu hadits Nabi Muhammad saw menyatakan, yang artinya, “ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah pada hari kiamat yang pada hari itu tidak ada naungan kecuali dari Allah, yaitu:
(1) Pemimpin yang adil,
(2) Pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah,
(3) Seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid ketika dia keluar hingga kembali kepadanya,
(4) Dua orang yang saling mencintai karena Allah, yaitu keduanya berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah,
(5) Seseorang yang selalu berdzikir kepada Allah di tempat yang sunyi lalu keduanya meneteskan air mata,
(6) Seorang laki-laki yang diajak oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan tinggi dan cantik untuk menggaulinya, maka dia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan
semesta alam’, dan
(7) Seseorang yang bersedekah secara rahasia (merahasiakannya) sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dibelanjakan tangan kanannya” (HR Bukhari dan Muslim).
Dalam al-Hadits lain beliau bersabda, yang artinya, “Barang siapa cinta karena Allah, benci karena Allah, memberi karena Allah, tidak memberi karena Allah, maka dia telah sempurna imannya” (HR Abu Dawud dan Ibnu Asakir).
Wallaahu a’lam bish-shawwab,
Fas-aluu ahladz-dzikri inkuntum laa ta’lamuun
Pengasuh Kajian :
Muhammad Muhtar Arifin Sholeh
Dosen di UNISSULA Semarang
Ph.D Student di Department of Information Studies,
University of Sheffield UK
http://www.muhstarvision.blogspot.com
0 comments
Trackbacks/Pingbacks
- Tafsir Surat Al Fatihah (Bag. ke 2) : Muh. Alif Chaeran - [...] Kingdom. Pada kali ini merupakan lanjutan dari Tafsir Surah Al Fatihah di postingan saya yang sebelumnya. Silahkan membaca kajian ...

